Ketika saya melihat presenter di layar kaca, saya berseloroh, “Wah kerja di TV enak ya. Terkenal dan bisa jadi selebriti.” Setelah saya magang di perusahaan media massa dan berteman dengan mantan penyiar berita, kenyataan itu tidak seindah kelihatannya. Kasarnya, saya terlalu melihat rumput tetangga lebih hijau.

Pun ketika saya memutuskan untuk menjadi pekerja lepas dengan harapan lebih fleksibel, kerja di mana saja, dan bisa semau gue. Salah lagi. Justru pekerja lepas harus pandai membagi waktu dan mendisiplinkan diri sendiri. Singkat kata, selama ini saya memilih berdasarkan emosi sesaat. Emosi yang meluap-luap dengan euforia dapat pekerjaan yang enak ternyata tidak seenak khayalan. Saya hanya menyukai angan-angan, bukan realita pekerjaannya.

Banyak orang yang ditanya cita-cita, tidak tahu. Kuliah ambil jurusan apa, tidak tahu. Sedapatnya. Yang penting dapat kampus. Setelah kerja, jawabannya sama. Sedapatnya yang penting bisa kerja dengan gaji yang bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kerja selama 8 jam sehari selama 5 hari. Istirahat penuh hanya di hari Sabtu dan Minggu. Hal ini akan semakin berat jika kamu tidak mencintai pekerjaanmu.

Apakah kamu termasuk seperti itu? Jika ya, jangan khawatir. Kamu tidak sendiri.

Menurut penelitian yang diadakan oleh Gallup, hanya 31,5 % orang saja yang bahagia dengan pekerjaannya. Sisanya, menjalani pekerjaan dengan terpaksa. Idealisme seringkali bertentangan dengan realitas. Kita hanya bisa bersikap idealis jika dapur sudah aman. Namun, tak sedikit yang memandang passion dan idealisme itu mutlak dalam profesi. Toh, semua pekerjaan tergantung nasib dan hoki. Ada pengusaha sukses ada yang tidak. Ada arsitek berhasil, ada yang biasa.

Tidak mudah untuk menjadi bagian dari 31,5 % orang tersebut. Seperti yang dilansir dari startupinstitute.com, ada delapan langkah yang bisa kamu lakukan untuk menggapai karir impian.

1. Introspeksi

Semua berawal dari diri sendiri. Jika kamu berpikir ingin karir baru, coba tanyakan hal-hal berikut: mengapa kamu ingin mencari karir baru? Apakah terkait dengan jenis karier itu sendiri atau hubungan personal dengan atasan dan rekan kerja?

Pindah karir tak semudah bayangan apalagi jika berkenaan dengan uang.

Apa yg paling membuat penasaran? Bidang apa yang paling menonjol?

Apa proyek yang paling aku nikmati baik itu berbayar maupun sukarela?

Jika kamu tak bahagia di tempat kerja dan belum berani beranjak, faktor pendorong bisa jadi tekanan emosional, tekanan ekonomi, atau sudah terlanjur bekerja lama dan ogah adaptasi di tempat kerja baru. Seperti apa lingkungan yang kamu harapkan? Kolaboratif atau kompetitif? Budaya kerja dengan struktur yang rinci dan disiplin tinggi atau lingkungan otonom? Kesimpulannya, cari tau apa yang benar-benar kamu butuhkan.

 

2. Apa yang membuatmu termotivasi?

Gali bidang yang kamu minati tanpa melibatkan uang. Di situlah jati diri dan passion berada. Passion itu murni kesenangan. Meski tak bisa terlalu idealis, tanpa passion, orang cepat bosan dengan bidang yang digeluti.

Ada hal yang harus pahami. Hidup memang tak selalu harus bahagia. Kesepian dan merasa terisolasi adalah hal biasa. Ketidakbahagiaan dalam pekerjaan itu lazim.

Neel Doshi dan Lindsay McGregor dalam bukunya Primed to Perform: How to Build the Highest Performing Cultures Through the Science of Total Motivation, menyebutkan bahwa motivasi langsung (direct motivators) adalah penggerak utama dan menghasilkan performa terbaik. Alasan terdekat untuk bekerja adalah pekerjaan itu sendiri. Ada tiga motivator langsung: Play, Purpose, dan Potential. Play secara literal artinya bermain. Layaknya bermain, kita mencintai pekerjaan karena kesenangan akan bermain itu sendiri. Purpose secara literal berarti makna. Setelah bermain, ada makna yang ingin dicapai. Kita baru merasakan makna dari bermain setelah nilai-nilai yang kita yakini sejalan dengan dampak yang kita hasilkan dalam bekerja. Potential secara literal berarti kekuatan. Setelah memperoleh hasil, kita akan menuju suatu hal yang kita anggap penting, seperti tujuan karir jangka panjang. Apa dampak yang ingin dibuat dengan pekerjaan ini?

3. Bangun citra diri

Citra diri (personal brand) adalah identitas profesional dan bagaimana kamu membingkainya. Ini adalah bagian penting dari memposisikan diri untuk mendapatkan karir impian. Sebagaimana identitas brand bagi sebuah perusahaan yang mencakup semua mulai dari logo dan pesan hingga pelayanan pelanggan (customer service), citra dirimu adalah rangkuman total dari keseluruhan minat dan keahlian, seperti apa bekerja denganmu, kehadiran digital (digital presence), dan lain-lain. Digital presence ini bisa dipoles dengan meluncurkan website.atau blog dan memoles citra diri melalui website profesional seperti LinkedIn, Glints, Kalibrr, dan sebagainya.

4. Lingkaran pergaulan yang mendukung

Carilah teman yang baik, bukan sekadar asyik. Kamu harus mempunyai beberapa mentor. Semakin banyak mentor dari berbagai kalangan, semakin banyak wawasan dan sudut pandang. Pilihlah orang-orang yang kamu percayai dan hormati, seperti orang yang karirnya lebih tinggi dan banyak pengalaman, bukan teman sebaya. Namun, membangun koneksi untuk mendapatkan mentor tak tumbuh dalam semalam. Ada nilai dalam persahabatan yang membuat hubungan menjadi intim. Tak sembarang orang mau memberi nasihat. Harus ada hubungan personal yang mendalam dalam jangka waktu lama. Pastinya, mentor akan bangga jika melihatmu berhasil. Keberhasilanmu berkat sentuhan mereka juga, kan?

5. Bangun koneksi

Membangun koneksi adalah kunci untuk menemukan kesempatan yang tepat. Ungkapan ‘the power of orang dalam’ memang dahsyat. Menurut The US Bureau of Labor Statistics melaporkan bahwa setidaknya 70 % pekerjaan ditemukan melalui koneksi. Hubungan di masa lalu secara alami inilah yang jadi pertimbangan untuk perekrutan manajer dan perekrut. Koneksi yang kuat bisa membangun citra diri, menghubungkan diri dengan pemain utama di industri, dan mempelajari bagaimana mengembangkan karier.

6. Asah Kemampuan Berkomunikasi

Elevator pitch/elevator speech/elevator statement adalah presentasi bisnis singkat.

Dibutuhkan kemampuan story telling agar cerita tersampaikan dengan singkat dan menarik. Elevator pitch merupakan cara yang bagus untuk membangun citra diri. Layaknya naik elevator yang hanya butuh waktu 20-60 detik, elevator pitch harus mengikuti KISS: Keep It Simple and Short.

Apa yang ingin pendengar ingat tentang dirimu? Nah, disinilah fungsi personal branding. Elevator pitch bisa kamu gunakan untuk membangun citra diri positif agar kamu semakin melejit. Pitch kamu alias suaramu harus bikin kamu senang dan tertarik, bagaimana orang lain bisa tertarik kalau kamu sendiri tidak. Orang tidak terlalu mengingat kata-kata, tetapi mengingat emosi dan antusiasme.

7. Investasilah Pada Diri Sendiri

Kamu bisa menceritakan berbagai pengalaman seperti pengalaman sukarela, kerja lepas, pelatihan keterampilan karier, atau keikutsertaan aktif dalam grup. Perbanyak pengalaman dan kembangkan keterampilan lain yang relevan. Tak ada salahnya mencoba bidang baru. Bagi penulis konten dan narablog, menguasai desain grafis dan pengeditan video bisa menjadi nilai tambah agar konten tak monoton.

8. Ambil Kesempatan

Jika ada penawaran, ambil saja selama bisa. Apa yang membuatmu tertarik dan termotivasi, kerahkan kemampuan, dan sumber daya yang kamu punya untuk mendapatkan karier idaman. Pekerjaan tak harus sesuai dengan bidang kuliah. Apapun bisa kamu tekuni asal enjoy. Jangan menunggu pekerjaan impian datang. Hasilkan uang dari hobi sebagai kerja sambilan. Pahami perbedaan antara hobi untuk mengisi waktu luang dengan hobi untuk mencari uang

Ketidakbahagiaan dalam pekerjaan seringkali berkaitan dengan konsekuensi yang inheren dengan impian. Kita hanya siap dengan suka, bukan dengan duka. Memilih karir bukan sekadar gengsi apalagi ajang pamer di media sosial. Satu hal yang pasti, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Kita tak pernah tau apa saja yang harus mereka korbankan untuk mendapat karir impian. Pun suka duka dalam karir mereka. Bisa juga apa yang kamu lakoni hari ini dianggap keren oleh temanmu. Kamu belum tentu cocok di bidang mereka. Pun mereka belum tentu bisa menjalani karirmu.

Baik, semoga informasi diatas bisa membantu kamu dalam perencanaan karir ya. Segera hubungi kami untuk berkonsultasi mengenai karir masa depan setelah kuliah di luar negeri, gratis!